Cerita Dewasa – Kisah Nyata. Entahlah diusia pernikahanku yang udah mencapai 9 tahun, tetiba aku ingin menuliskan kisahku sendiri dengan suami. Aku beri judul cerita dewasa. Bukan apa-apa, karena bagiku ini memang cerita orang dewasa.

Dimana kita akan menjadi dewasa saat banyak hal yang telah dilalui bersama pasangan. Ya bagiku istilah cerita dewasa bukanlah sesempit cerita hoho hihe malam pertama antara suami dan istri melainkan cerita apapun yang telah dilewati bersama dan itu bisa menjadi tangga pendewasaan bersama.

Buat kamu yang menemukan tulisanku ini dengan memakai kata kunci cerita dewasa, MAAF. Mungkin isinya tak akan pernah sesuai dengan harapanmu. Aku tidak sedang berniat menulis hal remeh yang penuh nafsu belaka sedang porsi pengetahuannya sangat minim.

Aku akan coba menulis dengan bahasa yang mengalir. Semoga nyaman dibaca.

Cerita Dewasa – Pertemuan dan Perkenalanku Dengan Suami

Ini adalah momen kesekian aku menjalani proses perkenalan dengan seorang laki-laki. Dia yang tinggal di Sidoarjo dan kerja di Surabaya, sedangkan aku masih kuliah S2 di Jogja saat itu kami bertemu utnuk pertama kalinya di Malang.

Sempat pesimis juga sebebnarnya, tapi sudahlah aku hanya menjalani ikhtiar. Jalan terasa ringan ringan berat tak terdefinisikan saat aku harus memenuhi panggilan ke malang demi bisa ta’aruf. Dalam perjalanan ngebatin dalam hati nih, kok doi kayanya gak tinggi banget ya.

Gimana aku nolaknya kalau ternyata TB nya lebih pendek dari aku bla bla. Udah bingung nolak aja padahal juga ingin mneyegerakan wkwk.

Tepatnya di Masjid Griya Santa Malang. Di forum ta’aruf yang mediasi oleh seorang Ustadz bernama Yosi Al Muzaini sekaligus pendisri klinik nikah yang saat itu suami menjadi peserta di program sekolah pra nikahnya klinik nikah Malang.

Ya jadi tiap ada kelas suami berangkat dari Sidoarjo ke Malang demi bisa mengikuti kelas sekolah pra nikah yang sudah ia niatkan dari awal mendaftarkan diri dalam program tersebut.

Layaknya proses ta’aruf pada umumnya sebelum kami diajak bertemu bareng dengan ustadz dan istri beliau, kami terlebih dulu bertukar biodata melalui ustadz selaku pendiri sekolah pranikah Malang saat itu.

Cerita Dewasaa : Proposal Nikah

Dari biodata berlanjut ketemuan. Artinya kami saling merasa cocok dari mempelajari biodata masing-masing. Dalam biodata tak hanya data pribadi tentang tempat tangal lahir, hobi, serta ciri-ciri fisik saja yang saya dan suami tulis.

Melainkan juga tentang kriteria pasangan yang diinginkan, visi misi menikah, konsep keluarga yang diinginkan dan seterusnya yang lebih bersifat konseptual. Masih inget banget aku tulis di kriteria fisik ada poin, tinggi badan minimal 162 cm.

Karena saya tinggi badannya 162 cm dan jujur kurang nyaman jika berjalan dengan cowok yang TB nya lebih rendah dari saya, jika itu sebagai pasangan. Begitu juga soal pendidikan, aku tulis minimal S1. Buka soal apa-apa, karena kita menikah ini bukan main-main saya ingin perbincangan dan obrolan kami tidak perlu sulit untuk saling menyambung.

Tak ada waktu lagi untuk berpikir dengan kemampuan yang berbeda dan suhu yang berbeda. Setidaknya jika sudah menempuh pendidika S1 memiliki struktur berpikir yang telah berpola. Khususnya dalam melihat sebuah kebaikan atau kebenaran.

Pesan hikmah yang kudapat di momen ini adalah Allah itu Maha Sempurna mendesain kebutuhan hambaNya Masyaallah. Yang baru sadari ketika proses taarufku biidznillah berlanjut ke orangtua dan bahkan khitbah. Dari khitbah ke nikah hanya rentang waktu 3 mingguan. Akad nikah adalah pertemuan ke 4 ku sama suami.

Secepat kilat rasanya kaya mimpi tapi kok nyata, kalau nyata tapi kok gak disangka-sangka. Ah tahulah yang ada saat itu hanya rasa syukur aku kedepankan terlepas nanti pasti akan kutemui tangis dan tawa yang sydah kusadari sejak awal memutuskan menikah.

Cerita Dewasa : Saat Memutuskan Memilih Dia Jadi Suami

Ada satu kalimat dari suami saat taaruf yang cukup membius hatiku sehingga menjadi lebih tenang menerimanya. Saat aku sampaikan bahwa aku punya ujian hidup dalam keluargaku, suami bilang bahwa Kita hidup dengan siapapun juga akan menemui ujian, tak perlu mempersulit diri dan membuat itu sebagai alasan penhalang untuk menikah.

Aku yang saat itu gak kenal ini orang dari awal langsung klepek nyes adem dengernya. Padahal saat aku proses dengan laki-laki lain sebelumnya, dia malah mundur dari proses ta’aruf karena mengetahui ujianku saat itu.

Aku serasa punya teman baru untuk saling menanggung beban hidupku selama ini. Apa ujian itu, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara saja. Dan qadarullah adik kandungku kondisinya berkebutuhan khusus yang hingga sekarang setiap harinya ia harus terus mengkonsumsi obat dari psikiater.

Circle pertemanan terdekatku sudah mengethaui semua soal kondisi adik, ya karena kami biasa saling berkunjung ke rumah masing-masing teman kami.

FYI saking bingungnya aku harus bagaimana agar tahu siapa dan bagaimana sikap dan perilaku calon suamiku akhirnya di momen ta’aruf aku memberikan tes grafis ke suami yang aku analisa sendiri setelah pertemuan tersebut. WHY?

Karena bagiku gak cukup dari biodata dan obrolan yang hanya 2 jam an saat itu untuk kemudia memutuskan akan lanjut atau enggak.

Sedangkan kami sama-sama tidak memiliki teman yang kenal dengan calon masing-masing. Ribet banget kalimatnya ya haha. Jadi aku gak punya teman yang kenal suami buat ditanya-tanya begitupun sebaliknya.

Bersambung dulu….kalau mood baru dilanjutkan wkwkw

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *