Bahaya Lisan di Era Media Sosial

Spread the love

Bahaya lisan di era media sosial.

Ada apa dengan bahaya lisan di era media sosial?

Bahaya lisan. Dalam istilah bahasa arabnya disebut afatul lisan. Ketika mendengar istilah bahaya lisan, pertanyaannya kemudian apakah lisan ini benar-benar berbahaya, masa iya Allah menitipkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuh kita.

Artinyaa istilah bahaya lisan mengndung penjelasan bahwa lisan kita memang berbahaya tergantung pada perilakunya kita sendiri. Lisan yang dipakai ghibah, mengejek, menyakiti saudara itulah yang membuat lidah kita menjadi berbahaya. Paham ya.

Tetapi dengan lisanpun kita bisa masuk surga. Bukankah ketika islam sampai pada kita saat ini juga karena adanya perpanjangan lisan dari para penda’wah, aktivis da’wah dan seterusnya.

Disadari atau tidak peran lisan di era media sosial telah tergantikan oleh tangan alias tulisan. Mungkin ingatan kita masih hangat oleh berita pencopotan jabatan dandim karena postinan istri tercinta. Dan peristiwa-peristiwa hukum lain yang disebabkan oleh postingan yang menyinggung satu pihak.

Dalam hal tersebut kita tidak bisa melihat hanya sebagai peristiwa politik semata. Karena hal ini sudah jauh-jauh waktu bahkan ribuan tahun lalu Allah dan RasulNya telah mengingatkan kita tentang bahaya lisan (tulisan di era sekarang).

 

Baca Juga:

Model Sepatu Wanita Kekinian Bisa Custom Bigsize

Model Sepatu Gaya Korea

Model Sepatu Kets Wanita

Media sosial dan pergeseran budaya

Disadari atau tidak arus media sosial telah menggeser sekian budaya masyarakat di sekitar kita. Diantara pergeseran budaya itu adalah sebagai berikut:

Budaya Pamer Menjadi Hal Biasa

Sebagai keturunan orang Jawa, namanya pamer itu selalu diwanti-wanti. Misalnya: nduk ora usah ngomong-ngomong liyane disik, ben ngerti dewe mengko. Kurang lebih seperti itulah nasihat orang tua jawa, kepada anaknya saat mendapatkn prestasi duniawi.

Tetapi sekarang, sangat menjadi hal biasa saja dan semakin menjadi budaya untuk menunjukkan kepada khalayak umum di media sosial terkait prestasi yang didadapatkannya. Ini bukan hal yang haram iya gak sih. Karena semua amal tergantung pada niat. Hanya soal budaya lama dan baru.

Meluapkan Emosi Ke Khalayak Umum Menjadi Hal Biasa

Masih tentang budaya di keluarga Jawa. Memiliki masalah pribadi juga menjadi hal yang (seharusnya) disimpan kecuali diceritakan kepada orang yang berkepentingan saja. Apalagi ada unsur aib pribadi, keluarga atau pasangan.

Namun saat ini juga telah tergeser menjadi hal yang sangat biasa untuk mengungkapkan emosi, perasaan, curhatan, kekecewaan, bahkan aib pasangan diposting di media sosial. Sehingga memancing yang lain untuk berkomentar dan seterusnya.

Tentu pergeseran budaya yang satu ini harus menjadi catatan khusus bersama untuk para muslimah khususnya ya. Tak luput juga untuk diri saya sendiri. Karena memang tidak seharusnya hal yang sifatnya pribadi dan mengandung unsur aib diri, pasangan maupun keluarga kurang elok untuk dipublikasikan yang selanjutnya dikhawatirkan memancing komentar khlayak umum yang tidak berkepentingan sama sekali. Menyelesaikan masalahkah?

Budaya Update Status

Nah seolah masyarakat saat ini sudah terbiasa menyiapkan status untuk setiap harinya di media sosialnya. Entah untuk jualan, jalan-jalan, dan semua aktivitasnya sehari-hari. Dan sekali lagi ini bukan masalah ketika masih dalam hal positif dan tergantung pada niatnya. Allahu a’lam bis showwab.

bahaya lisan, bahaya lisan di era media sosial, hadist tentang bahaya lisan, ayat tentang bahaya lisan

Bagaimana seharusnya kita bersikap di Era Media Sosial Ini?

  1. Pahami Hakikat Dari Lisan
  2. Pahami Bentuk-bentuk Bahaya Lisan
  3. Pahami Fungsi Media Sosial Secara Baik

Ketiga poin di atas ini akan saya detailkan di poin berikutnya ya. Baca terus ya sampai akhir.

Pahami Hakikat Lisan

Dalam hal apapun penting  sekali kita memahami hakikat dari hal tersebut. Misalnya, apa hakikat kita berbusana, apa hakikiat kita makan, apa hakikat kita bekerja, apa hakikat kita menulis dan seterusnya.

Hakikat berarti hal yang mendasar, yang inti, yang paling pentinglah intinya. Misalnya, hakikat kita berbusana adalah menutup aurot, masalah harga baju, merk, model, brand dan seterusnya bukan hal subtantif yang harus diperjuangkan. Paham ya. Berikut  ini penjelasan hakikat lisan:

  • Nikmat dari Allah SWT

Lisan ini merupakan nikmat dari Allah. Amanah dari Allah. Nikmat dan amanah itu harus dijaga dan disyukuri. Bersyukur itu bukan sekedar berterimakasih dengan memuji Allah, melainkan juga menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan untuk kebaikan agama Allah.

Pada hari ketika, lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap semua yang dulu mereka kerjakan (An Nur (24): 24)

  • Sarana Menyampaikan Maksud yang Diinginkan Kepada Lawan Bicara

Jika kita punya maksud kepada seseorang, lalu kita buat hal tersebut sebagai status wa misalnya, apa sampai kepada yang bersangkutan, apa justru malah mengundang yang lainyang tidak bersangkutan tergoda juga memberikan komentarnya. Ghibah lagi kan.

Dua hakikat lisan ini jika dipahami dengan baik insyaallah akan menjadi alarm tersendiri bagi diri kita dalam menggunakan lisan ini khususnya di era media sosial.

Pahami Bentuk Bahaya Lisan

bahaya lisan, bahaya lisan di era media sosial, hadist tentang bahaya lisan, ayat tentang bahaya lisan

  • Ungkapan yang tidak berguna

Contoh: status yang mengundang komentar ghibah

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikir yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat. (HR. Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah RA)

  • Bicara secara berlebihan

bahaya lisan, bahaya lisan di era media sosial, hadist tentang bahaya lisan, ayat tentang bahaya lisan

Artinya membuat cerita yang berlebihan.

Nabi Muhammad pernah bersabda:

Tiada akan lurus keimanan seorang hamba hingga lurus pula hatinya dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lidahnya. Seorang hamba tidak akan masuk surga selagi tetangganya belum aman dari kejahatan lidahnya.

An Nisa: 114: bisikan terbaik menyuruh manusia shadaqah, berbuat ma’ruf, mengadakan perdamaian diantara manusia.

  • Ungkapan yang mendekati kebatilan dan kemaksiatan

Siapa saja beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat, ucapkanlah yang bermanfaat atau lebih baik diam.

  • Berbantah, berdebat dan bertengkar

Mudah terjadi saat kita menjadi pribadi yang selalu merasa paling benar dan paling baik. Orang tahlilan dihujat dst.

Berdebat dengan akhlaq atau etika yang baik, it’s OK. Mau mendengar pendapat lawan debat. Ada penengah, mendahulukan persamaan. Semua jika dilakukan dengan etika berdebat tidak masalah. Bukan maunya menang sendiri, memaksakan pendapat sendiri.

An Nahl : 125

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

  • Bercanda dan bersanda guraubahaya lisan, bahaya lisan di era media sosial, hadist tentang bahaya lisan, ayat tentang bahaya lisan

Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya saya suka bersenda gurau dan tidak akan mengatakan kecuali yang benar.

Bercanda yang benar dan tidak berlebihan masih diperbolehkan. Rasulullahpun juga pernah bercanda kan ya.

  • Ungkapan yang menyakitkan

Ungkapan jorok, cacian, hinaan, ejekan, merendahkan, meremehkan nasihat alim ulama’, mempermainkan hukum Allah dst.

Imam Al Basyri:

Lidah orang berakal terletak di belakang akalnya. Hati orang dungu terletak di belakang lidahnya.

  • Melaknat binatang, benda dan manusia

Melaknat berarti menjauhkan sesuatu dari rahmat Allah, padahal itu termasuk perkara ghaib.

Seorang mukmin bukanlah tukang cela dan tukang laknat dan bukanlah orang yang suka berkata keji dan kotor. (HR. Imam Tirmidzi)

  • Bernyanyi dan bersyair

Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah, anjuran jihad, memperbaiki akhlaq, saling mencintai, tolong menolong, adalah baik bagi agama dan akhlaq.

*Rasulullaah pernah bernyanyi syairnya Ibnu Rawahan

  • Berfasih fasih dalam berbicara untuk mencari perhatian
  • Menyebarkan rahasia

Sejelek-jelek orang di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang menyebarkan rahasia pasangannya. (HR. Imam Muslim)

  • Dusta atau berbohong dalam perkataan, janji dan sumpah (munafik)

Al Hajj: 30

jauhilah perkataan dusta

  • Menceritakan Keburukan Orang Lain (ghibah)

Ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya

  • Sanjungan yang menjerumuskan

Sanjungan palsu demi mencari muka. Tidak didasari iman dan doa.

  • Sesuatu yang memalukan, diceritakan dan ditertawakan

At taubah: 82

Hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari yang selalu mereka kerjakan.

  • Adu domba/ menghasut

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (HR. Muttafaq ‘Alaih)

  • Bertanya yang bukan-bukan hingga memberatkan yang menjawab

Pahami Fungsi dan Manfaat Positif Media Sosial dengan baik

  • Sebagai wadah kita berkreatifitas (aktualisasi diri)

Bentuk aktualisasi diri begitu beragam, bisa melalui hobi, minat, juga keterampilan. Ibu-ibu yang suka memasakpun saat ini bisa mendapatkan uang hanya dengan posting resep makanan yang dia kuasai cara pembuatannya.

Ada satu situs yang mewadahi karya ibu-ibu yang suka memasak dan membagikan karya berupa resep masakannya. Apa itu, cookpad.com. Silahkan dilihat, disana ada resep yang gratis juga ada yang berbayar. Yang berbayar itu artinya, jika kita ingin membaca resep yang bertanda berbayar, kita harus transfer uang dulu baru kita akan dapat membaca resep tersebut.

Bisa juga melalui akun chanel youtube. Sangat bisa sekali seorang ibu rumah tangga mendpatkan penghasilan dengan mengunggah aktivitas memasaknya di situs ini. Dan seterusnyalah.

  • Media kita menjadi influencer (orang yang memiliki pengaruh)

Dalam poin ini teman-teman bisa memilih dengan cara banyak membaca buku atau apapun tulisan yang bisa dibaca. Kemudia teman-teman telaah dan ramu ulang. Bayangkan jika dari satu postingan kita ada satu orang tercerahkan hatinya dan bertambah imannya. Sekali lagi, karena di era medsos, lisan sudah banyak tergantikan oleh tulisan.

  • Akun Media Sosial (jejak digital) Bisa sebagai Aset

Saat ini perusahaan-perusahaan besar juga mengalami adaptasi dalam hal memasarkan produknya. Memilih membayar para blogger dan pemilik akun medsos yang pengikutnya banyak, menjadi salah satu strategi untuk memasarkan produknya.

Lumayankan yang instagramnya bisa memiliki dua ribu pengikut atau blognya memiliki pengunjung yang banyak, siap-siap dilirik sama perusahaan untuk ditawari program kerjasama iklan.

Beberapa waktu lalu misalnya, ada perusahaan mie instan yang sedang mau promo produk baru. Pihaknya mencari para pemilik akun ig dengan minimal pengikutnya berjumlah dua ribu pengikut. Satu postingan diberi fee 500.000. Mantap kan.

  • Sarana syiar Islam
Membuat anak, membuat anak mau menghafal qur'an, cara membuat anak, membuat anak mau menghafal, balitaku khatam Al quran
DM di Ig

 

Contoh aja nih ya. DM itu masuk saat saya habis posting anak-anak murojaah. Sampai sini pahamlah ya bagaimana maksud dari syiar islam. Ada lagi waktu posting hunting ziswaf bulan ramadhan. Sebagian juga dapat dari media sosial. Ini contohnya:

membayar fidyah, cara membayar fidyah, cara membayar fidyah dari online

 

  • Sarana bisnis (yang tak melulu jualan)

Cukup pahamlah ya soal poin ini 😀

  • Menambah ilmu, media belajar banyak hal.

Sudahlah langsung bacakesimpulan aja ya 😀

Kesimpulan

Ada banyak peluang dan kesempatan untuk kita bisa memanfaatkan media sosial untuk kepentingan yang luas dan tujuan besar dari sekedar posting masalah pribadi. Dunia media sosial harus kita pahami secara utuh dan menyeluruh. Sebanyaknya informasi tentang pemanfaatan media sosial di era digital haruslah dituntut oleh para muslimah zaman ini. Mengingat masyarakata sebagai objek da’wah dan syiar islam saat ini merupakan pengguna dan penikmat media sosial juga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *